OKEBALI.COM Denpasar 12 Maret 2023.
Penyakit psikosomatis adalah kondisi yang menggambarkan saat munculnya penyakit fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh kondisi mental. Beberapa gangguan kecemasan tersebut meliputi stres dan kecemasan.
Secara etimologi, psikosomatis terdiri dari dua kata, yaitu pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Jadi, secara harfiah psikosomatis adalah penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh. Memang dalam banyak kasus penyakit, kondisi mental yang kurang baik juga memengaruhi tubuh seseorang hingga memicu penyakit atau memperparah penyakit yang sudah ada.
Jika dilihat dari sisi psikologi, psikosomatis atau penyakit fungsional adalah kondisi yang menyebabkan pengidapnya merasa sakit dan mengalami gangguan fungsi tubuh. Namun, saat dilakukan pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang lain, tidak ada keanehan yang terjadi dalam tubuh.

Beberapa gejala sering dirasakan pengidap psikosomatis antara lain:
Jantung berdebar-debar.
Sesak napas.
Lemas atau tidak dapat menggerakkan anggota tubuh sama sekali.
Nyeri ulu hati/lambung
Tidak nafsu makan.
Susah tidur.
Nyeri kepala.
Nyeri seluruh tubuh
Di antara gejala tersebut, ada ciri lain yang bisa dikenali saat seseorang mengidap psikosomatis. Pengidap penyakit ini kerap berganti-ganti dokter sampai ia menemukan dokter yang ia rasa cocok. Sebab ia merasa membutuhkan dokter mau mengerti, dan mendengarkan setiap keluhannya. Pengidap psikosomatis biasanya tidak terima jika dokter mengatakan bahwa dirinya dalam kondisi baik-baik. Akibatnya ia terus mencari dokter lain yang dapat memahami kondisinya.
Sebenarnya sampai saat ini, belum diketahui bagaimana pikiran bisa memunculkan gejala dan penyakit fisik. Namun, stres diduga menjadi salah satu kondisi yang merusak kesehatan seseorang. Tidak hanya secara mental, tetapi juga secara fisik. Hal ini yang memungkinkan seseorang jatuh sakit atau sakitnya semakin parah ketika stres.

Gejala dari penyakit ini bisa diatasi atau diringankan dengan beberapa metode terapi dan pengobatan, seperti:
Psikoterapi, seperti dengan terapi kognitif perilaku.
Latihan relaksasi atau meditasi.
Teknik pengalihan.
Akupunktur.
Hipnosis atau hipnoterapi.
Terapi listrik, yaitu dengan transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS).
Fisioterapi.
Obat-obatan, seperti antidepresan atau obat penghilang rasa sakit yang diresepkan dokter. Dan segera konsultasikan ke dokter anda bila gejala tersebut cukup berat dan mengganggu konsentrasi dan produktifitas anda
REF. 1 Nevid,dkk. (2014). Abnormal Psychology in Changing World: 9th Edition. New













