OKEBALI.COM Impotensi sering dialami oleh pria yang mengidap tekanan darah tinggi atau hipertensi. Hal ini disebabkan tekanan darah tinggi dapat memicu penyempitan serta pengerasan pembuluh darah atau aterosklerosis. Aterosklerosis akan mengakibatkan aliran darah menjadi terhambat ke organ-organ tubuh, salah satunya yaitu penis.
Penyebab Impotensi
1. Penyebab fisik terjadinya impotensi
Pada banyak kasus, disfungsi ereksi disebabkan oleh sesuatu yang bersifat fisik atau berasal dari tubuh. Penyebab umumnya termasuk:
Penyakit jantung.
Pembuluh darah tersumbat (aterosklerosis).
Kolesterol tinggi.
Tekanan darah tinggi.
Diabetes.
Kegemukan.
Sindrom metabolik, kondisi yang melibatkan peningkatan tekanan darah, kadar insulin, lemak tubuh di sekitar pinggang dan kolesterol tinggi.
Penyakit Parkinson.
Multiple sclerosis.
Penggunaan obat resep tertentu.
Menggunakan tembakau.
Penyakit Peyronie, perkembangan jaringan parut di dalam penis.
Pecandu alkohol dan bentuk penyalahgunaan zat lainnya.
Gangguan tidur.
Menjalani perawatan untuk kanker prostat atau pembesaran prostat.
Operasi atau cedera yang memengaruhi area panggul atau sumsum tulang belakang.
Selain itu, impotensi juga bisa terjadi karena kadar hormon testosteron pada pria yang rendah.
2. Penyebab psikologis terjadinya impotensi
Sementara itu, penyebab terjadinya impotensi pada pria dari sisi psikologis, di antaranya:
Depresi, stres, gangguan kecemasan berlebihan, atau kondisi kesehatan mental lainnya.
Masalah hubungan yang terjadi karena stres dan komunikasi yang buruk.
Ketika Anda mengalami ciri-ciri impotensi saat berhubungan seksual dengan pasangan, bisa jadi faktor penyebabnya adalah psikologis. Namun, jika Anda tidak bisa ereksi sekalipun telah diberi berbagai stimulasi seksual, kemungkinan besar Anda mengalami gangguan kesehatan.
Seorang pria dikatakan mengalami impotensi ketika semua gejala-gejala ini timbul secara teratur berkelanjutan, bukan hanya sekali saja. Hal ini kemudian ikut memengaruhi aspek psikologis dan emosional pria, dan menimbulkan gejala seperti rasa malu atau minder, tidak berharga atau tidak pantas, putus asa, depresi, hingga bahkan kehilangan gairah seks.
Diagnosis Impotensi
Pemeriksaan riwayat medis dilakukan untuk membantu mendiagnosis impotensi dan menentukan rencana pengobatan. Jika kamu memiliki kondisi kesehatan kronis atau dokter menduga adanya keterlibatan dari kondisi medis tertentu, dokter akan merekomendasikan kamu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Adapun pemeriksaan yang umum dilakukan untuk mendiagnosis kondisi kesehatan yang mungkin terlibat, di antaranya:
Pemeriksaan fisik. Ini termasuk pemeriksaan terhadap penis dan testis serta memeriksa saraf untuk memberikan sensasi dan memicu ereksi.
Tes darah. Sampel darah dikirim ke laboratorium untuk memeriksa tanda penyakit jantung, diabetes, kadar testosteron rendah, dan kondisi kesehatan lainnya.

Tes urine. Tes urine juga digunakan untuk mencari tanda-tanda diabetes dan kondisi kesehatan lain yang mendasarinya.
USG. Tes ini melibatkan alat seperti tongkat (transduser) yang dipegang di atas pembuluh darah yang memasok penis. Tes ini terkadang dilakukan bersama dengan suntikan obat ke dalam penis untuk merangsang aliran darah dan menghasilkan ereksi.
Tes psikologi. Dokter akan mengajukan pertanyaan untuk menemukan adanya kemungkinan penyebab psikologis lain dari impotensi.
Terapi pengobatan :
1. Pemberian obat
Obat-obatan oral menjadi opsi pengobatan impotensi yang bekerja baik bagi banyak pria. Obat yang diberikan termasuk:
Sildenafil.
Tadalafil.
Vardenafil.
Avanafil.
Keempat obat tersebut dapat meningkatkan efek oksida nitrat, bahan kimia alami yang diproduksi tubuh yang melemaskan otot-otot di penis. Ini akan meningkatkan aliran darah dan memungkinkan pengidap untuk ereksi sebagai respons terhadap rangsangan seksual.
2. Pengobatan lainnya
Obat-obatan atau metode terapi lain yang kerap digunakan oleh dokter untuk mengatasi impotensi, di antaranya:
Injeksi alprostadil secara mandiri
Terapi ini dilakukan dengan menggunakan jarum halus untuk menyuntikkan alprostadil ke dasar atau samping penis. Terkadang, obat yang umumnya digunakan untuk kondisi lain juga diresepkan untuk suntikan penis sendiri atau kombinasi.
Suppositoria uretra alprostadil
Terapi intrauretra alprostadil melibatkan penempatan suppositoria alprostadil kecil di dalam penis, tepatnya di uretra penis. Pengidap akan menggunakan aplikator khusus untuk memasukkan supositoria ke dalam uretra penis.
Pengganti hormon testosteron
Beberapa pria mengalami impotensi yang diperumit oleh rendahnya kadar hormon testosteron. Terkait dengan hal tersebut, terapi penggantian testosteron akan direkomendasikan sebagai langkah pertama atau diberikan dalam kombinasi dengan terapi lain.
3. Pompa penis dan implan
Jika obat-obatan tidak memberikan hasil yang efektif atau tidak dapat diberikan, dokter mungkin merekomendasikan pengobatan yang berbeda, seperti:
Pompa penis
Pompa penis atau alat ereksi vakum adalah tabung berongga dengan pompa bertenaga manual atau baterai. Tabung ditempatkan di atas penis, lalu pompa digunakan untuk menyedot udara di dalam tabung. Ini menciptakan ruang hampa yang menarik darah ke penis.
Implan penis
Perawatan ini melibatkan pembedahan dan menempatkan perangkat ke kedua sisi penis. Implan terdiri dari batang yang dapat ditiup atau ditekuk. Perangkat tiup memungkinkan pengidap untuk mengontrol kapan dan berapa lama mengalami ereksi. Sementara itu, batang lunak menjaga penis tetap kuat tetapi dapat ditekuk.
Implan penis biasanya tidak dianjurkan sampai metode lain telah dicoba terlebih dahulu. Implan memiliki tingkat kepuasan yang tinggi pada pengidap yang telah mencoba dan gagal dalam terapi yang lebih konservatif. Namun, tetap ada risiko komplikasi, seperti infeksi.
Selain itu, tindakan operasi implan penis tidak dianjurkan oleh dokter jika saat ini pengidap memiliki kondisi medis lainnya. Misalnya sedang mengidap infeksi saluran kemih.
4. Olahraga
Olahraga terutama aktivitas aerobik sedang hingga berat diyakini dapat membantu mengatasi impotensi. Bahkan, olahraga teratur dengan intensitas ringan dapat mengurangi risiko impotensi.

5. Konseling psikologi
Jika impotensi disebabkan oleh stres, kecemasan, depresi, atau kondisi tersebut menciptakan stres dan masalah hubungan dengan pasangan, dokter akan menyarankan agar pengidap mendapatkan konseling psikologis.
Komplikasi Impotensi
Komplikasi yang mungkin terjadi akibat impotensi, di antaranya:
Kehidupan seks yang tidak memuaskan.
Stres atau kecemasan berlebihan.
Rasa malu atau rendah diri, terutama pada pasangan.
Masalah dalam hubungan.
Pencegahan Impotensi
Cara terbaik untuk mencegah impotensi adalah mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dan mengelola setiap kondisi kesehatan yang ada. Sebagai contohnya:
Mengelola diabetes, penyakit jantung, atau kondisi kesehatan kronis lainnya.
Melakukan pemeriksaan rutin dan tes skrining medis.
Berhenti merokok, menghindari konsumsi minuman beralkohol, dan tidak menggunakan obat-obatan terlarang.
Berolahraga secara teratur.
Sebisa mungkin menghindari atau mengatasi stres maupun kondisi mental lain yang sedang dialami.
Mendapatkan bantuan profesional untuk kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Erectile dysfunction.
WebMD. Diakses pada 2022. Erectile Dysfunction.
Medical News Today. Diakses pada 2022. The causes of impotence and how to treat them.













