Foto: Dwi Sasetyaningsih, Kuliah pake uang Rakyat tapi komentarnya di sosmed nyinyir kenegeri sendiri
Denpasar OKEBALI.COM
Isu mengenai alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang pamer kewarganegaraan asing sedang menjadi sorotan tajam publik di Februari 2026. Hal ini dipicu oleh unggahan media sosial seorang alumni bernama Dwi Sasetyaningtyas (DS), yang menyatakan kebanggaannya atas paspor Inggris yang diperoleh anaknya dan mengeluarkan pernyataan kontroversial, “Cukup saya WNI, anak jangan”.
Fakta-fakta terkini terkait polemik tersebut dan langkah tegas dari pemerintah:
Kontroversi Dwi Sasetyaningtyas (DS)
Pemicu Viral: DS mengunggah video yang menunjukkan paket dari Home Office Inggris berisi dokumen kewarganegaraan dan paspor Inggris untuk anak keduanya. Pernyataannya dinilai merendahkan identitas WNI dan tidak nasionalis, mengingat ia dan suaminya adalah penerima beasiswa negara
Tindakan Pemerintah: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menindak tegas kasus ini. Suami DS, yang juga merupakan awardee LPDP, diwajibkan untuk mengembalikan seluruh dana beasiswa beserta bunganya.
Sanksi Tambahan: Purbaya menyatakan akan melakukan blacklist terhadap yang bersangkutan agar tidak dapat bekerja di lingkungan pemerintahan. Ia menegaskan bahwa dana beasiswa berasal dari pajak rakyat dan utang pemerintah yang seharusnya digunakan untuk membangun SDM Indonesia.
Ironi Etika: Publik menilai tindakan ini tidak etis karena pendidikannya di luar negeri dibiayai oleh dana abadi pendidikan (LPDP) yang berasal dari pajak rakyat Indonesia, namun ia justru tampak enggan memberikan identitas kebangsaan yang sama kepada keturunannya.
LPDP telah memanggil suami yang bersangkutan (yang juga merupakan awardee) dan mengingatkan agar alumni lebih bijak di media sosial serta menjaga nama baik institusi dan negara
Direktur Utama LPDP, Sudarto, telah menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan ini dan menegaskan pentingnya pengabdian bagi para penerima beasiswa.
Isu ini kembali mengangkat perdebatan mengenai fenomena “brain drain” dan efektivitas pengawasan terhadap ribuan alumni yang tidak kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi.
Kejadian tersebut menimbulkan perdebatan sengit dan sangat menyayangkan yang bersangkutan flexing di Media Sosial yang seakan bangga anaknya menjadi WNA dan terkesan melecehkan Negeri sendiri,tak sadar bahwa LPDP didapat dari uang Negara dan uang Rakyat yang cukup besar.













