Denpasar OKEBALI.COM
Situasi tumpukan sampah yang tidak diangkut selama berhari-hari di Bali, khususnya di area Denpasar dan sekitarnya pada awal 2026, memang menjadi permasalahan serius dan meresahkan masyarakat. Berdasarkan laporan terkini, hal ini disebabkan oleh masa transisi pengelolaan sampah dan rencana penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai situasi tersebut per Januari 2026:
Penyebab Penumpukan: Sampah menumpuk karena TPA Suwung yang berencana ditutup permanen (diundur menjadi November 2026) membatasi penerimaan sampah, memicu keterlambatan pengangkutan dari rumah warga.

Dampak bagi Warga: Warga di wilayah seperti Jalan Plawa, Jalan Gadung, dan Abian Kapas, Kenyeri dan masih banyak lagi mengeluhkan sampah yang berserakan selama hampir dua minggu, menimbulkan bau tidak sedap dan pemandangan tidak sedap bahkan memicu timbulnya penyakit karena lalat yang semakin banyak. Ditambah lagi anjing-anjing liar memporak porandakan tumpukan sampah didepan rumah penduduk.
Krisis Pengelolaan: Penutupan TPA Suwung memicu aksi demo dan komplain warga karena dianggap kurangnya solusi konkrit pengangkutan sampah di tingkat rumah tangga.
Solusi Sementara: Pemerintah setempat berupaya mengalihkan pembuangan ke tempat lain, seperti Kabupaten Bangli, dan mengoptimalkan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reuse, Reduce, Recycle).
Desakan Masyarakat: Warga dan pelaku pariwisata mendesak pemerintah segera mengatasi krisis ini karena sangat mengganggu kenyamanan dan mencoreng citra pariwisata Bali.
Kondisi darurat sampah ini diharapkan segera tertangani dengan beroperasinya fasilitas pengolahan sampah modern secara penuh.













