Jakarta OKEBALI.COM
Gelombang penjarahan besar-besaran yang menyasar butik-butik mewah dan gerai terkenal di Paris serta kota-kota besar Prancis lainnya merupakan dampak langsung dari eskalasi demonstrasi krisis biaya hidup yang berujung anarki pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Kelompok perusuh memanfaatkan situasi protes massal tersebut untuk membobol sistem keamanan toko dengan linggis dan alat pemukul, memecahkan kaca etalase, lalu menjarah habis barang-barang mahal di dalamnya.
Daftar Merek dan Lokasi Terkenal yang Terdampak
Penjarahan dan perusakan properti secara masif ini menargetkan distrik perbelanjaan utama di Paris, seperti Avenue Montaigne, Rue Saint-Honoré, hingga pusat perbelanjaan legendaris Galeries Lafayette. Beberapa merek fesyen, perhiasan, dan elektronik ternama yang menjadi korban utama meliputi:
• Rumah Mode & Pakaian Mewah: Louis Vuitton, Hermès, Céline, Christian Dior, Gucci, Versace, Ralph Lauren, dan Burberry.
• Jam Tangan & Perhiasan: Rolex dan Swarovski.
• Teknologi & Elektronik: Apple Store dan gerai operator telekomunikasi SFR.
• Pakaian Olahraga & Ritel Lain: Arc’teryx, Lacoste, Aigle, dan Intersport.
Mengapa Barang Mewah Jadi Sasaran?
Meskipun demonstrasi ini awalnya dipicu oleh frustrasi masyarakat kelas pekerja terhadap inflasi energi, fasilitas pendidikan yang buruk, dan anjloknya daya beli sejak 2024, kelompok perusuh radikal (black blocs) sengaja mengincar simbol kekayaan global. Bagi massa, gerai barang mewah dipandang sebagai representasi ketimpangan ekonomi dan kapitalisme ekstrem di saat masyarakat umum kesulitan memenuhi kebutuhan pokok mereka.
Namun, penjarahan ini tidak hanya terjadi pada barang fesyen mahal. Karena krisis yang mencekik, massa juga melakukan penjarahan paralel di ratusan supermarket lokal (seperti gerai Franprix, Monoprix, Picard, dan Carrefour) untuk mengambil persediaan makanan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari.
Hingga saat ini, Federasi Ritel Prancis (FCD) memperkirakan sekitar 1.500 toko rusak atau hancur di seluruh negeri dengan total kerugian komersial mencapai ratusan juta euro. Pihak berwenang Prancis telah menangkap lebih dari 1.200 hingga 1.800 orang yang terlibat dalam aksi kriminal ini.
