Foto: Gubernur Bali Dr. Ir. I Wayan Koster, M.M. tegas mengatakan Pariwisata Bali growth 7-8% vs 2024 dan faktor cuaca ekstrim 2025,penyebab pertumbuhan kurang dari 10%
Badung OKEBALI.COM
Isu mengenai Bali sepi wisatawan pada akhir tahun 2025 dibantah keras oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, serta sejumlah pelaku pariwisata dengan mengacu pada data kunjungan resmi.
Berikut adalah poin-poin utama klarifikasi tersebut:
1. Bantahan Gubernur Bali
Data Kunjungan Meningkat: Gubernur Wayan Koster menegaskan bahwa narasi “Bali sepi” yang viral di media sosial adalah tidak benar atau hoaks. Data menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan justru meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Statistik Resmi (per 22 Desember 2025):
Wisatawan Mancanegara (Wisman): Mencapai 6,8 juta orang, naik dari sekitar 6,3 juta pada tahun 2024.
Wisatawan Nusantara (Wisnus): Tercatat sebanyak 9,1 juta kunjungan.
Total Wisatawan: Menembus angka 15,9 juta orang hingga menjelang akhir tahun 2025.
Harian: Sejak 14 Desember 2025, kedatangan wisman rata-rata melampaui 20.000 orang per hari.
2. Tanggapan Pelaku Pariwisata dan Pemerintah Pusat
Menteri Pariwisata: Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, juga membantah isu tersebut dan menyebutkan bahwa meskipun ada perubahan pola liburan atau dampak cuaca, minat ke Bali tetap tinggi dengan angka kunjungan yang mendekati target.
Faktor Penyebab Isu: Beberapa pelaku usaha di lapangan mencatat adanya penurunan aktivitas di titik-titik tertentu yang mungkin disebabkan oleh cuaca buruk, harga tiket yang tinggi, atau pergeseran preferensi wisatawan ke destinasi lain seperti Thailand.
Indikator Lain
Pungutan Wisatawan Asing (PWA): Hingga 30 Oktober 2025, dana PWA yang terkumpul telah mencapai Rp318 miliar dan diproyeksikan menyentuh Rp380 miliar pada akhir Desember 2025, yang mencerminkan volume turis asing yang signifikan.

Foto:Mentri Pariwisata Widiyanti Putri Wardana
Lonjakan Bandara: Data Bandara I Gusti Ngurah Rai tetap mencatat lonjakan kedatangan dan adanya puluhan penerbangan tambahan (extra flights) untuk mengakomodasi arus wisatawan Nataru.
Target 7 juta masih sangat mungkin tercapai. Masih ada waktu sekitar satu minggu,” ujarnya.
Meski jumlah kunjungan wisatawan meningkat, Koster mengakui tingkat hunian hotel belum sepenuhnya sebanding.
Ia menilai hal tersebut dipengaruhi maraknya akomodasi non-hotel seperti Airbnb dan rumah kos yang dialihfungsikan menjadi penginapan, namun tidak memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan daerah.
“Okupansi hotel sekarang memang ada yang turun. Terendah sekitar 60 persen, sementara hotel seperti The Meru dan hotel bintang di Nusa Dua sekitar 80 persen. Seharusnya bisa lebih tinggi, tapi banyak wisatawan menginap di Airbnb,” jelasnya.
Koster menegaskan, secara keseluruhan jumlah wisatawan mancanegara tahun ini tetap meningkat sekitar 8 persen atau bertambah sekitar 400 ribu kunjungan dibandingkan tahun lalu.
Untuk menata persoalan akomodasi non-hotel, Pemprov Bali berencana segera menerbitkan Peraturan Gubernur terkait Airbnb, sesuai arahan dari Kementerian Investasi.
“Peningkatannya memang kurang dari 10 persen, tapi tetap naik,” katanya













