Breaking News

Dolar Naik,harga tempe ,tahu melonjak

Pengrajin tempe dan tahu di Jawa Tengah dan Jawa Timur berjuang mensiasati untuk tetap bertahan

Caps: Meroketnya harga kedelai karena naiknya nilai tukar dolar kerupiah naik tajam dan Pengrajin tahu dan tempe berjuang untuk bertahan

Denpasar OKEBALI.COM
Kenaikan harga tempe dan tahu akibat penguatan dolar terjadi karena mayoritas pasokan kedelai di Indonesia berasal dari impor. Ketika nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) meningkat terhadap Rupiah, biaya pembelian kedelai dari luar negeri otomatis membengkak, yang langsung memicu kenaikan harga produksi di tingkat pengrajin lokal.

Berikut adalah rantai dampak yang menyebabkan harga tempe dan tahu melonjak:  Penyebab Utama
1.Ketergantungan Impor: Sekitar 80% hingga 90% kebutuhan kedelai nasional dipenuhi melalui impor, terutama dari negara seperti Amerika Serikat.

2.Bahan Baku Mahal: Transaksi impor menggunakan mata uang dolar AS, sehingga pelemahan Rupiah membuat harga beli kedelai per kilogram melonjak di pasar domestik.

Biaya Produksi Naik: Pengrajin tahu dan tempe harus merogoh kocek lebih dalam untuk modal bahan baku, sementara biaya operasional lain tetap berjalan.

 

Caps: Dolar AS melejit harga kedelai mahal, ada 2 cara siasati hal tersebut agar tak merugi: potongan dan bentuk tahu/tempe diperkecil atau naikkan harga

Strategi Pengrajin untukBertahanUntuk menyiasati lonjakan modal ini, produsen tahu dan tempe biasanya mengambil beberapa langkah guna menghindari kerugian:
1.Menaikkan Harga Jual: Menjual tempe dan tahu dengan harga lebih mahal kepada konsumen di pasar tradisional.

2.Menyiasati Ukuran (Siasat Cetakan): Menjaga harga tetap sama namun memperkecil ukuran ketebalan tempe atau dimensi tahu agar hemat bahan baku.

3.Mengurangi Produksi: Membatasi jumlah pembuatan harian untuk meminimalkan risiko barang tidak laku akibat harga pasar yang tidak stabil.

 

Bagikan Artikel
';document.write(commandModuleStr);
Exit mobile version