Breaking News

Cara Sehat dan enak menikmati Daging untuk Penderita Hipertensi

OKEBALI.COM Health info

Sekali lagi pewarta mengirim artikel tentang Info Sehat yang semoga bermanfaat bagi para penderita Hipertensi khususnya.
Kata siapa penderita hipertensi alias tekanan darah tinggi tak bisa makan daging seperti orang pada umumnya? Simak tipsnya di bawah ini :

banner 325x300

1. Hindari Bagian yang Mengandung Lemak
American Heart Association menyarankan pengidap tekanan darah tinggi untuk membatasi asupan lemak jenuh karena bisa meningkatkan kadar kolesterol total dalam darah. Peningkatan kolesterol bisa membuat pembuluh darah menyempit dan mengeras sehingga memicu hipertensi.
Seperti telah disampaikan, salah satu sumber lemak jenuh adalah daging sapi, domba, dan babi. Lemak jenuh terutama terdapat dalam bagian lemak jenis daging merah tersebut.
Bagi kamu penderita darah tinggi yang ingin makan daging sapi ataupun daging merah lainnya, sebaiknya singkirkan terlebih dahulu bagian lemaknya.
Jadi, bagian yang dikonsumsi hanya daging atau otot saja. Dengan mengonsumsi daging tanpa lemak, tubuh kamu tidak memperoleh asupan kolesterol dalam jumlah berlebih sehingga tekanan darah tidak melonjak tinggi.
Potongan daging tanpa lemak sendiri mengandung sejumlah nutrisi, seperti protein, zat besi, vitamin B, dan zinc.

  1. Pilih Jenis Daging Putih 

Dietary approaches to stop hypertension (DASH) adalah pola diet yang dirancang untuk membantu mencegah maupun mengobati tekanan darah tinggi. Makanan yang dikonsumsi dalam DASH mencakup asupan kaya kalium, kalsium, dan magnesium. 
Selain itu, diet ini juga mewajibkan kamu memenuhi kebutuhan daging enam porsi dalam sehari. Asupan daging yang direkomendasikan dalam DASH, yaitu daging putih yang bersumber dari ikan serta unggas, seperti ayam dan kalkun. 
Meski begitu, daging unggas yang dipilih sebaiknya tanpa kulit. Soalnya, kulit unggas adalah sumber lemak jenuh yang bisa memicu tekanan darah tinggi.
Adapun jenis ikan yang bisa dipilih, misalnya salmon. Asam lemak omega-3 dalam salmon dapat menurunkan risiko penyakit pembuluh darah pemicu hipertensi.

  1. Panggang, Kukus, atau Rebus

Penderita hipertensi sebaiknya mengonsumsi daging yang diolah dengan cara dipanggang, dikukus, atau direbus. Hindari makanan yang digoreng dan diolah menggunakan bahan berlemak, seperti minyak atau santan.
Jika kamu memilih memanggang daging, pastikan daging tidak berada pada tingkat kematangan maksimal. Menurut Gang Liu, peneliti dari Harvard University, Amerika Serikat, mengonsumsi daging panggang yang sangat matang (well done) dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi sebesar 15 persen.

  1. Jangan Tambahkan Bumbu Tinggi Garam

Risiko meningkatnya tekanan darah kian besar ketika kamu mengonsumsi daging yang diolah menggunakan banyak garam ataupun saus siap pakai. Soalnya, garam dan saus mengandung banyak natrium yang bisa memicu hipertensi. 
Karenanya, kamu harus membatasi jumlah natrium dalam makanan. Sebagai gantinya, gunakan rempah-rempah atau perasan jeruk lemon untuk membumbui daging. Jangan gunakan bumbu dapur tinggi natrium, seperti garam, saus siap pakai, atau kecap asin.
Artikel Lainnya: Benarkah Penderita Hipertensi Tidak Boleh Makan Daging?

  1. Jaga Porsi Ideal

Meski diolah dan disajikan dengan cara yang tepat, penderita hipertensi tetap harus membatasi asupan daging yang dikonsumsi. Kamu dianjurkan untuk tidak terlalu sering mengonsumsi jenis makanan satu ini.
Selain itu, makanlah daging dalam porsi ideal. Idealnya, daging untuk hipertensi yang dikonsumsi tanpa lemak, harus seukuran telapak tangan, dan tidak lebih tebal dari setumpuk kartu.
Yuk, #JagaSehatmu dengan menerapkan tips makan daging untuk hipertensi di atas. Kini, kamu tidak perlu lagi khawatir darah tinggi melonjak ketika makan daging, ya!.

Yang terpenting selalu konsultasikan ke dokter anda atau klinik terdekat untuk mengetahui dan mengontrol tensi maupun kesehatan anda.

Mencegah jauh lebih baik dibanding mengobati. Salam sehat !!

Ref :NIH. Diakses 2022. Potassium.
American Heart Association. Diakses 2022. Saturated Fat.

OBC/UN

Bagikan Artikel