Breaking News
UMUM  

Ethiopia dulu terbelakang dan kelaparan tapi menjadi Negara berkembang pesat dan bahagia. Kok bisa?

Kalau kita mendengar Ethiopia, pikiran kita pasti bahwa Ethiopia dulu identik dengan kemiskinan dan busung lapar

Foto ilustrasi dulu Ethiopia menangis,kini mereka bahagia walau belum sempurna

Denpasar OKEBALI.COM
Kisah Ethiopia sering disebut sebagai “keajaiban ekonomi” di Afrika. Dari simbol kelaparan dunia pada 1980-an, Ethiopia kini menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Meskipun belum sepenuhnya “kaya” menurut standar negara maju, negara ini telah berhasil menekan angka kemiskinan dan membangun infrastruktur modern.

Berikut adalah faktor utama di balik transformasi tersebut:Investasi Infrastruktur Besar-besaran: Pemerintah mengalokasikan sekitar 20% dari PDB untuk proyek publik. Ini mencakup jaringan kereta api, jalan raya, dan Bendungan Renaissance (GERD) yang diproyeksikan menjadi pembangkit listrik tenaga air terbesar di Afrika untuk menyuplai energi industri.

Model Pembangunan Terpimpin (State-Led): Ethiopia mengadopsi model pembangunan yang terinspirasi dari China, di mana pemerintah memegang kendali kuat dalam mengarahkan investasi ke sektor-sektor strategis seperti manufaktur dan jasa.

Industrial Parks (Kawasan Industri): Mereka membangun banyak kawasan industri khusus untuk menarik investasi asing, terutama di bidang tekstil dan garmen, dengan memanfaatkan tenaga kerja muda yang melimpah dan murah.

Modernisasi Pertanian: Melalui bantuan teknologi (termasuk dari ISRAEL), Ethiopia mengubah lahan kering menjadi produktif. Sektor ini tetap menjadi tulang punggung ekonomi dengan menyerap 85% lapangan kerja dan menjadi komoditas ekspor utama seperti kopi, biji rami, dan bunga matahari.

Foto:Tahun 1984, banyak masyarakat Ethiopia yang hidup dibawah garis kemiskinan.dan anak-anak busung lapar

Pertumbuhan Sektor Jasa: Maskapai nasional mereka, Ethiopian Airlines, telah berkembang menjadi maskapai terbesar dan paling menguntungkan di Afrika, menjadikan Addis Ababa sebagai hub penerbangan utama di benua tersebut.

Tantangan Saat Ini:Meskipun tumbuh pesat (rata-rata 10% per tahun antara 2004–2019), Ethiopia masih menghadapi masalah serius seperti inflasi tinggi (sekitar 26%), konflik internal, dan beban utang luar negeri yang besar.

Bagi orang Indonesia, Ethiopia bukanlah nama yang asing. Hampir empat dekade lalu, tepatnya pada awal hingga pertengahan tahun 80-an, negeri ini begitu dikenal di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bukan karena hal yang positif, namun Ethiopia ‘terkenal’ saat negara tersebut dilanda kelaparan parah karena kekeringan panjang, dan juga karena perang saudara yang menghabiskan tenaga dan anggaran pemerintah. Sedemikian parahnya, bencana kelaparan ini membuat 1,2 juta rakyat Ethiopia meninggal (baik langsung maupun tidak langsung), dan ratusan ribu lain eksodus ke negara-negara tetangganya.

Foto: Kini banyak gadis Ethiopia yang cantik dan menjadi model

Semua orang terkesiap dengan bencana tersebut. Sampai-sampai, pada tahun 1983, musisi dan penyanyi legendari tanah air, Iwan Fals, menciptakan sebuah lagu yang populer berjudul “Ethiopia”, sebagai ungkapan kesedian sekaligus kengerian Iwan akan bencana kemanusian luar biasa tersebut. Salah satu penggalan liriknya berbunyi:

“Selaksa doa penjuru dunia
Mengapa tak rubah bencana
Menjerit Afrika
Mengerang Ethiopia”

Di masa yang sama, Indonesia yang berhasil berswasembada beras pada 1984, menyumbang 100 ribu ton gabah kepada para petani Ethiopia melalui FAO (badan PBB yang mengurusi pangan), dan sumbangan uang senilai $ 25,000 pada tahun 1987.

Foto : Rakyat Ethiopia mulai produktif mulai dari berternak,bertani baik bahan pokok maupun buah-buahan

Tak hanya kelaparan, bencana perang saudara dan perebutan kekuasaan juga kerap melanda negara yang diyakini tertua di dunia tersebut. Pada tahun 2000, Ethiopia adalah negara termiskin ke-3 di dunia, dengan Pendapatan perkapita sekitar $350. Lebih dari separuh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan global, sebuah tingkat paling tinggi di dunia. Banyak yang menyangka, Ethiopia akan ‘selesai’, negeri itu akan hilang, atau bergabung dengan negara lain.

Namun, kini semua telah berlalu.
Memang kemajuan disektor pertanian maju pesat karena bantuan teknologi dari ISRAELyang sukses menjadikan tanah yang tandus menjadi tanah yang subur . Namun yang paling utama adalah faktor kebijakan Pimpinan Pemerintahanya.

Bagikan Artikel
';document.write(commandModuleStr);